Sabtu, 12 Januari 2019

STRATEGI POLITIK CALEG PEREMPUAN MENJADI DEWAN karya Umi Nadliroh




STRATEGI POLITIK  CALEG PEREMPUAN MENJADI DEWAN
Pati: Al Qalam Media Lestari, 2019
223 halaman, 14,5 cm x 20,5 cm
Cetakan Pertama, Januari 2019
Copyright @ by. Umi Nadliroh

Editor                           : Al Qalam Tim
Desain Sampul             : Melly Lestari
Tata Letak                    : Al Qalam Tim
ISBN                            : 978-602-5944-





64-2



Membahasakan “Ilmu” ke Dalam “Laku”

Oleh Amir Machmud NS




           Pembahasaan “ilmu” ke dalam “laku” melalui “pengalaman empirik” adalah sesuatu yang “mahal” dan “mewah”. Mahal, karena tidak setiap orang mampu melakukan. Juga mewah, karena pembahasaan itu bakal menjadi referensi teoretik - praktik, atau dalam kalimat lain bisa dirumuskan sebagai kemampuan membumikan “selera akademik”.
          Antara “selera akademik” dan kemampuan membumikan inilah yang membutuhkan aneka persyaratan, dan tidak setiap orang mampu memenuhi. Seseorang boleh hebat secara akademik, akan tetapi bisa saja dia akan mengalami kesulitan ketika harus menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh audiens. Maka terkadang berlaku semacam sindiran, makin sulit pemikirannya dipahami makin ilmiahlah dia. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang punya pengalaman praktik dengan jam terbang tinggi dalam suatu bidang tertentu, namun belum tentu dia mampu menjelaskan lewat logika-logika ilmiah.
          Kepakaran memang tidak bisa dimaknai sebagai sekadar kompetensi dari satu keping kemampuan akademik, atau dari keping lain pengalaman praktik yang mendalam atas suatu bidang. Pemaknaan holistik akan lebih memudahkan untuk menyebut seseorang sebagai pakar dalam bidang-bidang tertentu, sehingga dia dianggap punya cukup kompetensi yang “otoritatif” untuk berbicara mengenai persoalan-persoalan sebagai seorang spesialis.
          Maka saya menyambut gembira penerbitan buku Strategi Politik Caleg Perempuan Menjadi Dewan (Studi Penelitian Pemilu Legislatif Tahun 2009 - Tahun 2019 di Pati) oleh Umi Nadliroh ini. Buku semacam ini akan menautkan antara teori dan praktik, antara sisi-sisi akademik dan segi empirik.
          Sebagai seorang magister, Nadliroh punya jejak akademik yang teruji. Terlebih lagi, pengalaman sebagai penyelenggara pemilihan umum di tingkat kabupaten selama dua periode memberikannya banyak referensi praktik yang bukan sekadar didapat dari riset-riset, melainkan praktik keseharian yang dilewati dengan dinamika, tantangan, manajemen, dan kecepatan respons dalam memberi solusi-solusi atas sejumlah kasus yang dihadapi, yang boleh saja tidak ditemui dalam teori-teori politik.
          Apalagi pengalaman itu didapat di Kabupaten Pati, daerah yang dikenal punya karakter politik unik dengan persoalan-persoalan yang khas. Misalnya, peristiwa penyelenggaraan pemilihan ulang kepala daerah pada 2012, hingga calon bupati/ wakil bupati yang berkontestasi melawan kotak kosong dalam Pilkada 2017. Daerah ini juga punya akar historis sebagai kawasan dengan para elite yang berani berkata “tidak” kepada kekuasaan Keraton Mataram pada masanya. Atau yang dalam bahasa lokal disebut punya karakter mokong terhadap kemapanan status quo.
          Nadliroh tidak hanya punya jejak empirik sebagai tokoh penyelenggara pemilu, yakni menjadi salah satu anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati. Dia juga memberi perhatian khusus terhadap peran politik perempuan. Dia punya jejaring cukup luas dengan aktivis pejuang peran politik perempuan. Pembahasan tentang hal itu secara khusus ditampilkan dalam Bab III: Teori Strategi, Politik dan Politik Keterwakilan Perempuan, yang mendapat aksentuasi khusus dalam poin C yang diberi label Keterwakilan Perempuan dalam Politik.
          Bagi para perempuan yang berniat menjadi calon anggota legislatif, buku ini memberi panduan-panduan strategis dan praktis, yang dapat dilihat sebagai semacam “pembekalan” tentang teori dan kiat-kiat. Pembaca akan menemukan persambungan antara konsep, teori, dan langkah-langkah praktis yang dibutuhkan. Akan ditemui dinamika pengalaman para caleg pada Pemilu 2009 hingga Pemilu 2019. Kalau pada awal buku ini saya menulis tentang idealita pembumian teori-teori akamik, maka bab demi bab yang dituangkan oleh Umi Nadliroh dari hasil risetnya akan menjadi pemandu yang baik dengan basis pengalamannya.
          Tidak hanya konsep-konsep pemilihan, keterwakilan, dan strategi-strategi yang dibahasakan dengan pengalaman empirik berbasis riset, buku ini secara idealistik juga berkandungan maksud mencari dan menemukan para calon anggota legislatif yang punya keberpihakan kuat kepada rakyat, punya martabat untuk benar-benar menjalankan fungsi dan “rasa” keterwakilan.
          Makin banyak tokoh dengan pengalaman seperti Umi Nadliroh yang menuang pengalaman sebagai penyelenggara pemilu dan berintensi untuk ikut merevitalisasinya, menurut saya, bakal makin banyak pula dokumentasi kepemiluan yang akan memperkaya referensi ilmu ketatanegaraan.
          Menjadi anggota KPU di tingkat kabupaten, bagaimanapun membekali penulisnya sebagai ujung tombak yang langsung berhadapan dengan pemilih dengan segala karakter, tantangan, dan dinamikanya. Pengalaman itulah yang sesungguhnya “mahal”, tidak dimiliki oleh banyak akademisi dan para analis politik.
                                                                                                  
-- Amir Machmud NS, wartawan dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah



Info Pemesanan : Nama_Strategi Politik_alamat-jumlah buku per eks
 kirim ke HP/WhatsApp 082142538006


Tidak ada komentar:

Posting Komentar