Senin, 18 Februari 2019

Dialog Tag

*Dialog tag*
Oleh: Wiwik Supriyanti

Dialog tag tidak selamanya hanya ada dalam tulisan fiksi. Sebuah artikel populer juga bisa disisipkan dialog tag.

Dialog tag dalam sebuah artikel populer tetap berkaitan erat dengan tema yang diusung artikel tersebut.

Tata cara penulisan dialog tag pasti sudah tahu semua ya...
(Ada kelas khusus PUEBI di kelas ini ☺)

Dialog tag bisa diletakkan di awal, tengah, atau akhir artikel. Disesuaikan dengan kebutuhan penulis.


Banyak contoh tentang hal ini ya...
Bisa cari di internet, atau sedikit tulisan saya ini bisa menjadi salah satu gambaran. Masih banyak kekurangan sana sini, mohon koreksinya nggih... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


*Suamiku Tak Seromantis Dulu Lagi*
Oleh: Wiwik Ummu Aisya

“Eh, Abi... ada mawar banyak, Bi,” kataku sambil mengarahkan pandangan ke berbagai bunga mawar nan cantik yang berjejer di etalase sebuah supermarket di kota kami.

“Iya, ben dijual bakule, Mi,” jawab suamiku sekenanya dengan tangan kanan membawa keranjang belanja, dan tangan kirinya menggamit tangan kananku.

“Umi mbok sekali-kali dikasih mawar cantik kek gitu, Bi,” ujarku sedikit manja dan memandangnya penuh dengan senyum.

“Lha, sekarang ajah, Mi. Umi pilih mana wes, nanti abi yang bayar,” jawabnya ringan.

“Ah, Abi. Sukanya gitu!” kataku ngeloyor meninggalkan barisan mawar cantik yang dihias pita di tangkainya itu.

“Lho... malah ngga mau,” kata suamiku sedikit bingung dan menyusulku yang sudah menuju rak perlengkapan kamar mandi.

______________

Dulu, sempat terfikir olehku, "Kenapa suamiku sekarang tidak romantis lagi?" Namun, tidak lagi setelah bersama dalam kelas Wonderfull Family bersama Ustaz Cahyadi Takariawan dan Bu Ida NurLaela.

Laki-laki yang belum menikah, akan memberikan perhatian dan romantisme (versi mereka) untuk menarik perhatian wanita yang dicintainya, yang ia harapkan menjadi istrinya, ibu dari anak-anaknya. Ia pun harus bersaing dengan lelaki lain untuk merebut hati wanitanya dan meraih restu dari orangtuanya.

Namun, setelah memiliki istri, laki-laki masuk dalam zona nyaman. Nyaman, sudah tak perlu mengejar wanitanya, karena sudah menjadi istri. Nyaman, wanita yang sudah dinikahinya sudah berada di sisi, senantiasa mendampingi dan membersamainya.

Romantisme suami sudah berubah dalam bentuk lain. Suami yang berjuang menjemput rezeki, dan hanya yang halal lah yang dibawa pulang untuk istri dan anak-anaknya, dengan harapan, kebersamaan bukan hanya di dunia ini, namun kekal hingga ke jannah-Nya.
Jika suami ragu atas apa yang ia peroleh, maka ditinggalkan di luar rumah. Ia amanahkan pada mereka yang membutuhkan.

Romantisme yang sudah berubah dalam bentuk nasihat dan jihad untuk senantiasa istiqomah menjalankan ibadah harian.
Teladan suami dalam melaksanakan amalan harian, tanpa banyak mengucapkan. Hanya dengan amalan yang dicontohkan.

Romantisme yang berubah dalam bentuk ringan tangan membantu istri dalam pekerjaan sehari-hari.
Suami yang tak pernah segan dan malu membantu mencuci baju, mencuci piring atau mengepel lantai. Pun ketika aku, istrinya telat pulang hingga petang, maka anak-anak pun dimandikan dan disiapkan tanpa kuminta.

Romantisme yang berubah dalam bentuk dukungan dan motivasi kepada istri menyalurkan hobinya.
Restu dan rida kepadaku memberikan motivasi dan kekuatan melangkah dan mewujudkan mimpi-mimpi menggoreskan pena menuturkan kebaikan, menebar kemanfaatan.

Itulah romantisme suami yang sudah berubah dalam bentuk yang lain.

Suami yang sudah nyaman di posisinya, merasa tak perlu melakukan hal romantis. Sedangkan istri yang masih merasa membutuhkan konsistensi perhatian, bahkan rayuan. Perbedaan pola fikir antara suami dan istri tersebut tidak jarang menimbulkan konflik, meskipun hanya sekadar konflik batin.

Maka, jalan tengah yang bisa diambil adalah melakukan kompromi. Mengomunikasikan dengan pasangan.

Memahami hal tersebut, aku pun melakukan komproni. Jika aku ingin diperlakukan romantis oleh suami, sedangkan hal itu sangat kecil kemungkinannya, maka aku melakukannya terlebih dahulu.
Pernah suatu ketika, kubelikan coklat kecil lalu kubungkus dan kuberi surat berbentuk hati, bertuliskan, "Uhibbuka ya zauji." Kertas itu masih tersimpan di dompet hingga detik ini. Maka kurasa, itulah hal yang romantis yang dilakukan suamiku.

Pernah pula ketika suami hendak pergi ke luar kota, aku menyiapkan segala kebutuhannya, dan kuselipkan catatan kecil dalam kertas warna. Sesampai di perjalanan, kusampaikan pesan petunjuk letak catatan kecil itu. Maka, terbentuk pula romantisme antara kami.

Pun sama, ketika aku ingin diberi setangkai mawar, maka aku lah yang memberi mawar itu. Aneh awalnya, namun menjadi suatu cerita yang menarik antara kami.

Wahai istri, ketahuilah bahwa suami masih tetap cinta dan romantis, namun dalam bentuk yang berbeda. Dalam bentuk tanggung jawabnya sebagai imam dalam keluarga, yang menjadi nahkoda dalam mengarungi samudera rumah tangga hingga berlabuh di jannahNya.

Mari kita cintai dan taati suami kita dalam koridor meraih ridaNya.

--Cemburu ibarat garam dalam masakan, terlalu banyak akan terasa getir. Romantis ibarat gula dalam minuman, terlalu banyak bisa mengakibatkan diabetes.--

Pati, 3 Desember 2018

__________


Sumber:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10217768392189454&id=1470840444

Tidak ada komentar:

Posting Komentar